EBITDA: 5 Komponen dan Contoh Cara Menghitungnya!

Dalam laporan keuangan istilah pendapatan, bunga dan pajak mungkin sudah tidak asing lagi. Laporan keuangan tentu saja sangat penting karena untuk mengetahui performa keuangan dan menentukan strategi yang perlu dilakukan selanjutnya. Laba bersih yang diperoleh perusahaan merupakan nilai yang sudah dikurangi oleh pajak dan bunga. Tetapi, EBITDA adalah istilah untuk nilai laba operasional ditambah dengan depresiasi dan amortisasi.

Artikel ini mengulas lengkap mengenai EBITDA dari fungsi, rumus hingga cara menghitungnya. Yuk disimak agar Anda lebih paham topik ini!

Apa Itu EBITDA?

EBITDA memiliki kepanjangan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization. Apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti pendapatan yang diperoleh oleh organisasi atau perusahaan sebelum dikurangi nilai depresiasi (penyusutan) dan amortisasi.

Performa keuangan dari bisnis Anda bisa diketahui melalui EBITDA. Perusahaan atau bisnis yang memiliki profit tidak terlalu besar umumnya menggunakan EBITDA untuk menyusun laporan keuangannya kepada calon investor yang akan menyuntikan dana.

EBITDA merupakan formula yang tidak membutuhkan pertimbangan investasi dari modal dasar seperti bangunan, gudang maupun peralatan yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan.

Tetapi perlu diingat bahwa EBITDA tidak dapat menunjukkan laporan arus kas secara detail dan tepat karena ada beban perusahaan yang tidak masuk dalam perhitungannya sehingga kurang tepat untuk menilai performa bisnis.

Apakah EBITDA sama dengan laba kotor? Jawabannya adalah tidak. Laba kotor merupakan pendapatan yang diperoleh perusahaan dikurangi dengan harga pokok penjualan (HPP). Perhitungan laba kotor tersebut sudah termasuk depresiasi dan juga amortisasi. EBITDA tidak memasukkan itu ke dalam perhitungannya.

Bagaimana Cara Menghitung EBITDA?

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa EBITDA adalah jumlah nilai dari penambahan pendapatan atau laba perusahaan dengan komponen pengeluaran non tunai, yaitu depresiasi dan amortisasi.

EBIT merupakan kepanjangan dari Earnings Before Interest and Taxes, yaitu pendapatan yang diperoleh perusahaan sebelum dikurangi bunga (interest) dan pajak (taxes).

EBITDA = EBIT + Depresiasi + Amortisasi

Tetapi jika perusahaan ingin mengetahui performa laba bersih yang diperoleh, EBITDA memiliki formula sebagai berikut:

EBITDA = Laba Bersih + Bunga + Pajak + Depresiasi + Amortisasi

Contoh EBITDA:

Perusahaan XYZ memiliki pendapatan Rp800.000.000,- dan memiliki biaya operasional sebesar Rp100.000.000,- dan Rp50.000.000,- dalam biaya yang tergolong depresiasi (penyusutan) dan amortisasi.

Pendapatan operasional perusahaan sebelum dikurangi bunga dan pajak (EBIT) sebesar Rp650.000.000,-. Ternyata perusahaan memiliki pinjaman di bank dengan bunga senilai Rp70.000.000,-, maka laba (keuntungan) perusahaan sebelum pajak adalah Rp580.000.000,-.

Pajak yang harus dibayarkan perusahaan sebesar Rp50.000.000,- sehingga laba bersih yang diperoleh perusahaan XYZ adalah Rp530.000.000,-.

Untuk menghitung nilai EBITDA, Anda harus menambahkan EBIT dengan depresiasi dan amortisasi.

EBITDA = Rp650.000.000,- + Rp70.000.000,- = Rp720.000.000,-

Komponen EBITDA

Ada beberapa komponen yang mempengaruhi nilai EBITDA antara lain:

Net Profit (Laba Bersih)

Komponen yang pertama dari EBITDA adalah net profit atau laba bersih yang diperoleh perusahaan. Laba bersih merupakan nilai profit yang sudah dikurangi oleh semua pengeluaran. Laba bersih perusahaan dapat dilihat pada laporan laba rugi, di bagian paling bawah.

Interest (Bunga)

Kegiatan operasional suatu bisnis biasanya dibantu oleh pinjaman kepada pihak ketiga seperti bank. Pinjaman tersebut dapat berupa modal usaha, dimana perusahaan berkewajiban membayar secara berkala sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak dengan nilai persentase bunga tertentu.

Bunga adalah sebuah kewajiban yang harus dibayarkan oleh peminjam (perusahaan) karena utang terhadap pihak ketiga. Bunga merupakan pengeluaran non operasional dan besarnya variatif bagi tiap perusahaan.

Tax (Pajak)

Pajak adalah kewajiban perusahaan yang harus dibayarkan kepada pemerintah atas kepemilikan atau ketika Anda menjalankan sebuah bisnis. Pajak yang terhutang perusahaan dihitung dari persentase pendapatannya.

Pemerintah sudah menetapkan nilai pajaknya sesuai Undang-Undang Perpajakan. Pajak yang biasanya dikenakan pada pemilik bisnis adalah pajak penjualan, pajak ekspor impor atau pajak penghasilan. Nilai pajak tidak sama untuk setiap perusahaan, tergantung dari jenis bisnis, lokasi dan ukuran bisnisnya.

Baca Juga: Laporan Perpajakan Perusahaan Beserta Cara Pembuatan dan Contoh

Depreciation (Depresiasi)

Depresiasi merupakan nilai penyusutan terhadap aset tetap pada masa ekonomis aset tersebut. Depresiasi bisa terjadi pada aset tetap berupa gedung perkantoran atau kendaraan operasional.

Amortization (Amortisasi)

Amortisasi merupakan nilai pengurangan dari aset tidak berwujud seperti pinjaman dari pihak lain atau hak paten milik perusahaan. Nilai amortisasi pada komponen EBITDA adalah nilai pengurangan dari pinjaman. Kalau dalam bentuk hak paten, berarti nilai pengembangan yang terjadi atas hak paten perusahaan.

Fungsi EBITDA

EBITDA memiliki beberapa fungsi antara lain:

Perbandingan Keuntungan

Fungsi utama EBITDA adalah sebagai analisis dan perbandingan tingkat keuntungan yang diperoleh antar perusahaan dan industri. EBITDA bisa mengeliminasi efek dari sebuah keputusan finansial dan akuntansi.

Laba Perusahaan

Bagi beberapa perusahaan, EBITDA bisa digunakan untuk menunjukan nilai laba yang bagus karena laba atau keuntungan yang tercatat belum dikurangi oleh komponen EBITDA yaitu bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi. Cara ini dapat menunjukkan keuangan perusahaan terlihat sehat, nyatanya masih ada beban yang harus dibayarkan oleh perusahaan.

Baca Juga: 5 Perbedaan Biaya dan Beban dalam Akuntansi

Metriks Keuntungan

EBITDA dapat menjadi metriks untuk melihat dan menjadi bahan evaluasi keuntungan yang diperoleh perusahaan. Perlu ditekankan, EBITDA tidak bisa digunakan untuk melihat rincian arus kas perusahaan karena masih banyak beban dan biaya yang perlu dikeluarkan.

Keleluasaan Laporan Keuangan

Fungsi selanjutnya adalah perusahaan bisa lebih leuasa dalam membuat laporan keuangan karena berbentuk catatan pendapatan non-GAAP dan pembuatan serta perekalaman laporan keuangannya bukan standar otoritatif dewan perusahaan.

Nilai dari perhitungan EBITDA tidak terikat dengan aturan dari perusahaan, jadi pendapatan yang diperoleh sebelum dikurangi pajak ini memberi keleluasaan bagi akuntan dalam membuat laporan keuangan.

EBITDA adalah

Kelebihan dan Kekurangan EBITDA

Salah satu kelebihan EBITDA adalah sebagai pembanding kekuatan finansial antara dua perusahaan yang menghasilkan ukuran kinerja tunggal. Perbedaannya bisa dalam bentuk pengeluaran dan tarif. Kemudian bisa dilakukan analisis untuk fokus pada hasil keputusan operasional dibandingkan fokus pada pajak dan pembayaran yang dibebankan.

Selain itu, EBITDA juga dapat digunakan dalam rasio penilaian seperti penilaian pada bisnis yang memiliki biaya yang cukup tinggi dan bisa menyebabkan laba bersih berkurang.

Di balik kelebihan EBITDA, ternyata EBITDA juga memiliki kekurangan bagi perusahaan, investor maupun analis. Kelemahan EBITDA adalah memungkinkan adanya komponen berbeda yang dimasukkan atau dikecualikan oleh perusahaan yang berbeda.

Cara ini tentu saja bisa menyesatkan investor dan analis. EBITDA digunakan untuk menyajikan keputusan mengenai keuangan untuk keuntungan dan tujuan perusahaan, kalau ada pengecualian utang apa pun maka akan disebut sebagai akun window dressing.

Dalam perhitungan EBITDA tidak ada perubahan modal kerja perusahaan sehingga catatan keuangan perusahaan bisa tidak sesuai dengan kenyataan. Laporan arus kas perusahaan juga berpeluang tidak sesuai dalam suatu periode akuntansi.

EBITDA sifatnya tidak sensitif terhadap tagihan aktual karena perhitungannya tidak memperhatikan perubahan fundamental di dalam modal kas perusahaan.

Kekurangan lain dari EBITDA adalah tidak adanya informasi kualitatif mengenai sumber penggunaan finansial perusahaan dan detail mengenai likuiditas yang sifatnya dinamis.

Baca Juga: Mengenal Laporan Perubahan Modal Beserta Tujuan dan Contohnya

Kesimpulan

EBITDA adalah singkatan dari Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization. Pengertian dari EBITDA adalah pendapatan perusahaan sebelum dikurangi oleh nilai depresiasi aset dan amortisasi aset tak berwujud seperti hak paten.

Ada lima komponen yang mempengaruhi EBITDA yaitu laba bersih, bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi. EBITDA berfungsi untuk menganalisa perbandingan keuntungan yang diperoleh antar perusahaan atau industri, menunjukkan keuangan perusahaan sehat di mata investor dan sebagai bahan evaluasi keuangan perusahaan.

Perlu diingat, EBITDA tidak dapat digunakan untuk melihat rincian laporan arus kas perusahaan karena masih ada pengurangan beban dan biaya yang dikeluarkan perusahaan.

Pembuatan laporan keuangan secara manual, tentu saja akan menyulitkan Anda karena akan menghabiskan waktu dan rentan terjadi human error. Untuk menghindari dua hal tersebut, sebaiknya Anda menggunakan software akuntansi yang sudah terintegrasi seperti MASERP.

MASERP merupakan software ERP yang sudah terintergrasi dengan banyak fungsi bisnis seperti penjualan, pembelian, keuangan, manufaktur dan lain-lain.

MASERP akan memudahkan Anda mencatat, memantau dan membuat laporan keuangan sepeti arus kas dan laba rugi perusahaan secara otomatis dan kapan saja tanpa harus menunggu rugi atau negatif.

Pencatatan dan pengawasan laporan keuangan harus dilakukan secara rutin untuk memastikan cash flow perusahaan selalu positif. Anda bisa mencustom software sesuai kebutuhan bisnis Anda dengan MASERP. Segera konsultasikan dengan konsultan ahli kami. Gratis!

New call-to-action