Faktor, Cara Kerja, dan Cara Menghitung Hurdle Rate

Written by Tika Ulfianinda

Faktor, Cara Kerja, dan Cara Menghitung Hurdle Rate

Dalam bisnis, menentukan proyek atau investasi yang tepat kerap menjadi tantangan karena risiko kerugian selalu mengancam. Hurdle rate adalah salah satu konsep yang membantu perusahaan menilai apakah suatu investasi layak dijalankan berdasarkan tingkat pengembalian minimal yang diharapkan.

Untuk memahami cara kerja, perhitungan, serta cara kerja hurdle rate dalam pengambilan keputusan investasi, simak artikel selengkapnya di bawah ini.

Highlight Artikel
Highlight Artikel
  • Hurdle Rate adalah tingkat pengembalian minimum yang harus dicapai suatu investasi atau proyek agar dianggap layak secara finansial, berfungsi sebagai patokan untuk mengevaluasi kelayakan investasi.
  • Perhitungan Hurdle Rate mempertimbangkan berbagai faktor seperti biaya modal (WACC), tingkat risiko proyek, kondisi pasar, dan ekspektasi investor untuk menentukan standar minimum pengembalian yang dapat diterima.
  • Perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan Hurdle Rate dengan melakukan evaluasi berkala, analisis sensitivitas, dan memanfaatkan teknologi seperti software ERP untuk meningkatkan akurasi dalam pengambilan keputusan investasi.
Jadwalkan Free Demo MASERP!

Pengertian Hurdle Rate

Dalam pengambilan keputusan investasi, salah satu hal penting yang harus diperhitungkan adalah tingkat pengembalian minimum agar modal yang ditanamkan tidak merugi.

Hurdle rate adalah tingkat pengembalian minimum yang harus dicapai oleh sebuah proyek atau investasi agar dianggap layak oleh investor, baik individu maupun perusahaan.

Secara teknis, hurdle rate dipakai untuk mendiskontokan arus kas masa depan dari investasi. Jika arus kas yang dihasilkan tidak mencapai tingkat pengembalian yang diharapkan, proyek akan memiliki net present value (NPV) negatif, artinya proyek berpotensi merugi secara finansial. Arus kas yang diperoleh harus minimal sama dengan biaya modal yang dikeluarkan.

Hurdle rate biasanya disesuaikan dengan tingkat risiko proyek dan sering dikaitkan dengan Weighted Average Cost of Capital (WACC), yaitu rata-rata tertimbang biaya modal dari seluruh sumber pendanaan perusahaan.

Semakin tinggi risiko proyek, nilai hurdle rate yang ditetapkan juga akan tinggi. Ini bertujuan agar investor dapat memastikan potensi keuntungan sebanding dengan risiko yang diambil.

Baca Juga: Manajemen Kas: Tujuan, Faktor yang Memengaruhi, dan Strategi

Faktor yang Menentukan Hurdle Rate

Tingkat hurdle rate ditentukan berdasarkan berbagai faktor yang mencerminkan risiko dan biaya investasi. Investor dapat memastikan bahwa potensi keuntungan sebanding dengan risiko yang diambil.

Berikut beberapa faktor yang menentukan hurdle rate.

Tingkat Risiko Investasi

Hurdle rate berkaitan langsung dengan risiko investasi. Semakin tinggi risiko suatu proyek atau aset, semakin besar pula tingkat pengembalian minimum yang dibutuhkan agar investor merasa cukup terkompensasi.

Misalnya, investasi di aset kripto yang fluktuatif biasanya memiliki hurdle rate lebih tinggi dibanding saham perusahaan blue-chip yang lebih stabil.

Prinsip ini menunjukkan bahwa risiko yang lebih besar harus sebanding dengan potensi keuntungan yang lebih tinggi.

Kondisi Ekonomi dan Pasar

Lingkungan makroekonomi turut memengaruhi hurdle rate. Faktor-faktor seperti inflasi, fluktuasi suku bunga, dan ketidakpastian ekonomi akan memengaruhi ekspektasi pengembalian investasi.

Misalnya, saat suku bunga pasar tinggi, investor mengharapkan proyek memberikan hasil yang lebih tinggi. Tujuannya agar keuntungan dari investasi lebih menarik dibanding menempatkan dana di deposito atau instrumen pasar uang.

Cost of Capital (Biaya Modal)

Komponen penting lain yang memengaruhi penentuan hurdle rate adalah cost of capital atau biaya modal perusahaan. Cost of capital mencakup biaya ekuitas dan biaya utang yang dihitung menggunakan metode seperti WACC.

Jika perusahaan menghadapi biaya utang yang tinggi atau investor ekuitas mengharapkan pengembalian lebih besar, hurdle rate yang lebih tinggi diperlukan agar investasi tetap menguntungkan.

Hurdle rate menyesuaikan target pengembalian dengan risiko dan biaya modal yang terlibat.

Cara Kerja Hurdle Rate

Dalam pengambilan keputusan investasi, perusahaan perlu menetapkan standar pengembalian minimum agar proyek yang dijalankan layak secara finansial.

Di sinilah hurdle rate berperan sebagai tolok ukur atau benchmark untuk menilai sebuah proyek atau peluang investasi sepadan dengan risiko dan biaya modal yang dikeluarkan.

Hurdle rate sering disebut break even point (BEP) adalah tingkat pengembalian minimum yang dibutuhkan agar investasi layak dilakukan. Angka ini membantu manajemen mengambil keputusan secara objektif.

Untuk menghitungnya, perusahaan menggunakan skema keuangan yang meliputi perencanaan arus kas masuk dan keluar, perhitungan biaya modal, serta penilaian risiko proyek.

Setelah hurdle rate ditetapkan, perusahaan dapat mengevaluasi kelayakan proyek menggunakan berbagai metrik keuangan, salah satunya net present value (NPV).

NPV menghitung nilai sekarang dari seluruh arus kas proyek dengan menggunakan hurdle rate sebagai tingkat pengembalian minimum. Proyek dianggap layak jika NPV nilainya tetap positif.

Indikator lain yang digunakan untuk menilai kelayakan dan potensi keuntungan suatu proyek investasi. Internal rate of return (IRR) menjadi indikator karena menunjukkan tingkat pengembalian proyek secara persentase. Manajemen bisa membandingkan IRR dengan hurdle rate untuk menilai proyek tersebut layak dijalankan dan menguntungkan secara finansial.

Bagaimana Cara Menghitung Hurdle Rate?

Cara menghitung hurdle rate sebenarnya cukup sistematis dan dapat diuraikan dalam beberapa komponen utama.

Secara umum, hurdle rate dapat dihitung dengan rumus berikut:

Hurdle rate = Weighted Average Cost of Capital (WACC) + Premi Risiko

Weighted Average Cost of Capital (WACC) adalah rata-rata biaya modal perusahaan dari ekuitas dan utang, dihitung setelah pajak.

Angka ini menunjukkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk membiayai aset dan operasi proyek, termasuk modal pinjaman, saham biasa, dan saham preferen.

Selain WACC, premi risiko juga penting. Premi risiko adalah tambahan pengembalian yang diharapkan investor untuk menutupi risiko proyek tertentu.

Misalnya, jika proyek diperkirakan memberi return 10% dan tingkat pengembalian bebas risiko 3% sehingga premi risikonya adalah 7%.

Selain kedua komponen utama tersebut, perusahaan juga memperhitungkan faktor tambahan seperti risiko proyek, peluang ekspansi, perkiraan pengembalian dari proyek serupa, dan biaya modal terkait.

Sebagai alternatif, Internal Rate of Return (IRR) digunakan untuk menilai tingkat pengembalian internal proyek dan membandingkannya dengan hurdle rate yang telah ditetapkan.

Hurdle rate perlu dihitung secara tepat agar perusahaan dapat membuat keputusan investasi yang lebih terukur, meminimalkan risiko kerugian, dan memastikan proyek yang dijalankan memberikan pengembalian yang memadai terhadap modal yang ditanamkan.

Contoh Menghitung Hurdle Rate

Untuk memahami penerapan hurdle rate, mari kita lihat contoh pada sebuah perusahaan manufaktur pakaian berikut ini.

Pabrik Tekstil Aruna sedang mempertimbangkan investasi untuk membeli mesin pemotong kain otomatis baru. Manajemen memperkirakan mesin ini dapat meningkatkan penjualan sekitar 18% dalam tahun pertama penggunaannya.

Dari sisi keuangan, Pabrik Tekstil Aruna memiliki Weighted Average Cost of Capital (WACC) sebesar 10% dan premi risiko yang diantisipasi untuk proyek ini adalah 4%. Perhitungan hurdle rate-nya seperti di bawah ini.

Hurdle rate = WACC + premi risiko

Hurdle rate = 10% + 4% = 14%

Dengan demikian, hurdle rate untuk investasi mesin baru ini ditetapkan sebesar 14%.

Selanjutnya, perusahaan membandingkan estimasi tingkat pengembalian investasi atau expected return dengan hurdle rate.

Dalam kasus ini, proyeksi return dari pembelian mesin adalah 18%, yang lebih tinggi dari hurdle rate sebesar 14%. Artinya, investasi ini secara finansial dianggap layak karena diharapkan menghasilkan return yang melebihi tingkat pengembalian minimum yang dibutuhkan untuk menutupi biaya modal dan risiko proyek.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, hurdle rate adalah tingkat pengembalian minimum yang diharapkan dari investasi dalam sebuah proyek atau perusahaan. Angka ini digunakan untuk menentukan sebuah investasi mampu mencapai titik impas atau menghasilkan return positif sesuai harapan.

Salah satu manfaat utama penerapan hurdle rate adalah membantu manajemen menilai kelayakan proyek atau investasi berdasarkan potensi pengembalian.

Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena cenderung memprioritaskan proyek dengan persentase return tinggi dibandingkan nilai keuntungan nyata maupun dampak reputasi bagi perusahaan.

Oleh karena itu, dalam praktik bisnis, penggunaan sistem pembukuan yang terstandarisasi menjadi penting agar informasi keuangan tetap akurat dan dapat mendukung pengambilan keputusan investasi yang tepat.

Pembukuan dan laporan keuangan bisnis yang dibuat secara manual, tentu saja akan menyulitkan tim Anda karena akan menghabiskan waktu dan rentan terjadi human error.

Untuk menghindari dua hal tersebut, sebaiknya bisnis Anda menggunakan software akuntansi ERP yang sudah terintegrasi dengan berbagai departemen seperti MASERP.

MASERP merupakan software ERP yang sudah terintergrasi dengan banyak fungsi bisnis seperti penjualan, pembelian, keuangan, gudang, manufaktur dan lain-lain.

MASERP akan memudahkan Anda mencatat, memantau dan membuat laporan keuangan sepeti arus kas dan laba rugi perusahaan secara otomatis dan kapan saja tanpa harus menunggu rugi atau negatif.

Pencatatan dan pengawasan laporan keuangan harus dilakukan secara rutin untuk memastikan cash flow perusahaan selalu positif. Segera konsultasikan kebutuhan bisnis Anda dengan konsultan ahli kami sekarang. Gratis!

Konsultasi dan Demo Gratis Software ERP MASERP
Jadwalkan free konsultasi dan demo fitur lengkap software ERP MASERP untuk bisnis Anda.

Index