Dampak Work From Home (WFH) di Indonesia cukup jelas,

beberapa perusahaan Indonesia masih bingung bagaimana menerapkan Work From Home,
Remote Working atau kerja dari rumah karena pandemi corona.

Terutama untuk perusahaan manufaktur dan transport di Indonesia dimana 80% proses kerja harus bertatap muka.

Perusahaan mengalami kerugian yang tidak bisa dihindari karena banyak perusahaan di Indonesia yang harus melewati proses birokrasi yang sulit, sehingga beberapa perusahaan ‘terpaksa’ membuat karyawannya ter-PHK.

Beberapa perusahaan juga dikatakan tidak mengindahkan seruan presiden untuk Physical Distancing.

Dengan tetap mempekerjakan karyawan, alasan logis yang mereka miliki adalah bahwa bisnis harus tetap berjalan.

Ini upaya agar tidak termasuk dalam daftar perusahaan yang mengalami resesi ekonomi sehingga tidak bisa me-WFH kan karyawan.

Jika Anda memiliki perusahaan, tentu saja hal ini akan menjadi keluhan karyawan.

Anda telah dianggap mempertaruhkan jiwa mereka, sehingga menjadi dilema yang cukup memusingkan.

Lalu adakah solusi yang tepat agar dunia bisnis bisa bertahan di tengah pandemi corona tanpa harus mengorbankan jiwa atau mem-PHK?

Kerugian memang tidak bisa dihindari, yang bisa kita lakukan adalah meminimalisasi kerugian tersebut.

Solusinya adalah dengan mengautomasikan proses kerja perusahaan ke dalam software ERP berbasis cloud dan memberlakukan WFH atau Remote Working untuk pekerjaan divisi yang krusial.

Massoftware telah merangkum data akurat yang secara global telah diakui.

Sebuah perusahaan dapat mengikuti langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengefisiensikan WFH sebagai berikut:

Dampak Work From Home, Tenaga Pabrik diliburkan

Dampak Work From Home (WFH) Pada Struktur Organisasi:

Kategorikan Perusahaan Anda dan Jenis Pekerjaan Karyawan Anda

Menurut situs Owllabs, ada 5 jenis kemungkinan yang bisa didiskusikan sesuai dengan tipe perusahaan dan jenis pekerjaan:

  1. Perusahaan yang tidak bisa menerapkan Work From Home. Contohnya seperti perusahaan manufaktur dan transportasi karena banyaknya pekerjaan lapangan. Kemungkinan untuk menerapkan kerja remote adalah 20% jika pekerjaan divisi krusial dilakukan secara manual dan 40% jika pekerjaan divisi krusial menggunakan software ERP.
  2. Perusahaan Fully Remote. Perusahaan dengan mudah dapat menerapkan Work From Home seperti distribusi. Kemungkinan menerapkan kerja remote adalah 100%.
  3. Hybrid Companies. Perusahaan jenis ini lebih fleksibel karena mengizinkan baik Work From Home maupun bekerja di lapangan, seperti perusahaan IT, Marketing dan Jasa. Kemungkinan menerapkan kerja remote adalah 50%-50%.
  4. Remote Worker. Karyawan yang dikategorikan mampu mengerjakan pekerjaannya dari rumah.
  5. On-site Worker. Karyawan yang dikategorikan tidak mungkin mengerjakan pekerjaannya dari rumah atau harus di lapangan.

Setelah Anda mengkategorikan tipe perusahaan dan struktur organisasi karyawan, Anda akan memiliki persentase kemungkinan untuk menerapkan WFH darurat pada perusahaan Anda.

Angka tersebut bukan pasti, tapi setidaknya dapat menjadi pegangan Anda dalam memperhitungkan budget operasional, produksi perusahaan dan lain-lain.

Ini dilakukan agar dampak WFH tidak menimbulkan kerugian.

Di bawah adalah diagram persentase kemungkin WFH global sesuai dengan bidang perusahaan:

Diagram Work From Home (WFH)

Kategorikan Role: Tenaga Kerja Pabrik dan Non-Pabrik untuk Dampak Work From Home/WFH Lebih Baik

Perusahaan Manufaktur

Proses manufaktur sangat bergantung pada proses alur kerja yang efektif untuk memenuhi persyaratan klien mereka, mempertahankan tingkat produktivitas, dan memperluas bisnis.

Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi ke dalam tiga fungsi pokok: produksi, pemasaran dan administrasi.

Oleh karena itu perlu ada penggolongan dan pembedaan antara tenaga kerja pabrik dan tenaga kerja non-pabrik.

Tenaga kerja non-pabrik seperti Sales dan Pemasaran.

Administrasi dan Umum seperti bagian akuntansi, personalia dan sekretariat dapat dapat bekerja secara remote dengan menggunakan software ERP berbasis cloud.

Sedangkan untuk tenaga kerja pabrik, Pabrik bergantung pada operator untuk monitor alat berat tetap beroperasi dan tidak mungkin bagi mereka untuk bekerja dari jarak jauh.

Tetapi mengurangi jumlah orang yang diperlukan untuk mempertahankan operasional dapat dilakukan.

Langkah pertama, yang sudah diterapkan banyak pabrik, yaitu membatasi akses untuk staff yang berkepentingan.

Tenaga Pabrik menggunakan Masker, Dampak Tidak Work From Home (WFH)

 

Walaupun Tidak WFH, Minimalisasi Tenaga Kerja di Pabrik

Selama belum terdengar keluhan dari customer dan Demand masih tetap berjalan normal, cobalah untuk mengurangi tenaga kerja ke tenaga kerja inti.

Dilansir dalam Forbes, taktik yang diambil pabrikan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan Tenaga Kerja Pabrik meliputi:

  • Melakukan Staggering Shift untuk membatasi jumlah shift kerja karyawan di Pabrik pada waktu tertentu.

Misalnya, beberapa shift diganti ke pukul 8: 00-16: 30, yang lain 8: 30-17: 00, dan yang lain 9: 00-17: 30.

  • Membatasi karyawan agar tidak berkumpul di area umum.
  • Mewajibkan semua karyawan di lokasi untuk mengenakan sarung tangan.
  • Alat-alat yang digunakan bersama seperti Forklift, Mesin Bubut dan lain-lain, orang berikutnya yang mengambilnya harus membersihkannya dengan alkohol atau disterilkan.
Software Akuntansi maserp

 

Manajer dan Teknisi Memonitor Operasional Pabrik dari Rumah

Penting bagi manajer dan teknisi perusahaan untuk memonitor operasional pabrik dari rumah.

Teknisi harus memahami proses kerja dan data-data yang ada agar dapat memecahkan problem dari jarak jauh.

Sedangkan manajer harus dengan tanggap menangani masalah di Pabrik yang dapat mempengaruhi OEE (Overall Equipment Effectiveness).

 

Beradaptasi dengan Metode Work From Home (WFH) dari Sekarang, Dampak Perusahaan Lebih Fleksibel di Masa Depan

Pada tahun 2003, wabah SARS mendatangkan malapetaka dan banyak proses diberlakukan untuk mengurangi dampak pandemi di masa depan.

Dalam sebuah artikel New York Time, Dr. Daniel Kollek, seorang profesor kedokteran darurat di McMaster University di Hamilton mengatakan:

“Ketika saya membandingkan COVID-19 dengan apa yang saya alami sebagai dokter darurat selama SARS, ini adalah situasi yang berbeda dan situasi yang lebih baik. “

Mengambil tindakan hari ini untuk memungkinkan dampak Work From Home (WFH) yang positif dan rencana darurat lainnya tidak hanya akan mendukung kelangsungan bisnis hari ini tetapi juga membantu Anda menjadi lebih fleksibel di masa depan.

Pandemi, bencana alam, dan tantangan lainnya, seperti kekurangan tenaga kerja, dapat terjadi kapan saja.

Memiliki rencana kesinambungan bisnis bersama dengan solusi software ERP untuk metode Work From Home dapat meminimalisasi kerugian perusahaan manufaktur.

Klik disini untuk mendapatkan solusi software ERP yang terbaik untuk Anda.